Guru palsu di dunia pendidikan Indonesia
Pada tahun 1958, seorang profesor palsu bernama Giocostomo mendirikan institusi akademisnya sendiri dan menjadi Profesor Giocostomo. Ia tidak mengenyam pendidikan tinggi dan pendidikan terakhirnya di sekolah negeri setara sekolah menengah pertama (SMP). Ia berhasil menipu ribuan orang dengan mendirikan universitas dan memulai pendaftaran. Sebanyak 7.000 orang harus mendaftar dan membayar biaya sebesar Rp 7.500,00 yang merupakan jumlah yang cukup tinggi pada saat itu.
Kisah ini menggambarkan sebuah realitas umum dalam dunia pendidikan saat ini. Banyak guru yang memaksakan diri menjadi guru padahal tidak mumpuni untuk mengajar. Hal ini tentu akan menyulitkan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Tindakan lain seperti https://www.kemenagkabbekasi.com/ plagiarisme dan penyuapan untuk memfasilitasi akses pada tingkat tertentu juga berkontribusi terhadap permasalahan yang ada di sektor pendidikan Indonesia.
Ibarat parasit yang berkembang biak di dalam keindahan sekuntum bunga, perbuatan oknum tersebut mencoreng nama baik civitas akademika Indonesia. Mereka bertanggung jawab atas meluasnya ketidakpercayaan terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Mereka tidak menyadari bahwa tindakannya dapat memberikan dampak yang sangat negatif bagi dunia pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, penyelesaian permasalahan ini memerlukan semangat evolusi dari departemen terkecil hingga terbesar. Pernyataan singkat tentang pendidikan kewarganegaraan bagi generasi penerus generasi muda negeri ini.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau sering disebut PPKN merupakan ilmu yang mempelajari tentang kewarganegaraan, nilai-nilai Pancasila, konstitusi, demokrasi, dan hak asasi manusia. PPKN merupakan bagian dari pendidikan kewarganegaraan yang bertujuan untuk mengembangkan peran warga negara sesuai dengan ketentuan Pancasila dan UUD 1945. PPKN juga bertujuan untuk mengembangkan peserta didik menjadi warga negara yang intelektual dan berkarakter. Hal ini sangat penting bagi generasi muda di perguruan tinggi, karena dapat menanamkan nasionalisme, kebajikan, rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial terhadap sesama.
Apa jadinya jika generasi muda tidak mendapat pendidikan kewarganegaraan?
Tentu saja masyarakat tidak akan mengetahui bagaimana cara menjalani kehidupan bermasyarakat yang baik sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia. Pendidikan kewarganegaraan sendiri mengajarkan untuk tidak melanggar hak dan kewajiban diri sendiri maupun hak dan kewajiban orang lain, serta saling menghormati. Negara Indonesia terdiri dari beragam agama, suku, dan budaya, dan menjaga keutuhannya memerlukan toleransi di antara masyarakatnya. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan pendidikan kewarganegaraan kepada generasi muda negeri ini. Pendidikan kewarganegaraan sangat penting dalam membentuk karakter dan kepribadian generasi penerus bangsa yang senantiasa menjaga persatuan meskipun ada perbedaan. Demikian pula pada jenjang pendidikan tinggi, pendidikan kewarganegaraan tidak bisa dihapuskan dan generasi warga negara harus selalu diingatkan akan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik. Apa yang bisa kita capai setelah pendidikan kewarganegaraan?